About the Founder

Bagi Ir. H. Fikky Arif Ardianta, S.E., S.T., IPM., ASEAN.Eng, infrastruktur selalu memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar konstruksi fisik. Ia melihat trotoar, jalur pedestrian, hingga elemen kecil seperti guiding block sebagai bagian dari sistem yang menentukan bagaimana seseorang merasakan sebuah kota, apakah ia merasa aman, dipandu, dan dihargai sebagai pengguna ruang publik.

Ir. Fikky tumbuh dalam lingkungan keluarga pengusaha yang berkecimpung di dunia industri perbajaan. Sang kakek memulai usaha pengolahan baja secara manual, sebuah masa ketika kekuatan fisik, ketelitian tangan, dan pemahaman karakter material menjadi penentu kualitas. Dari sanalah ia mewarisi disiplin terhadap presisi dan keyakinan bahwa produk yang baik harus mampu bertahan dalam jangka panjang.

Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa kekuatan struktur saja tidak cukup. Kota yang baik bukan hanya kuat, tetapi juga harus inklusif.

Foto pak fiky

Pendidikan yang Membentuk Cara Pandang

Ir. Fikky menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Islam Indonesia, memperdalam teknik sipil, manajemen, dan ekonomi. Latar belakang teknik memberinya pemahaman tentang sistem pedestrian, perencanaan trotoar, serta standar keselamatan ruang publik. Sementara disiplin manajemen membentuk kemampuannya dalam menerjemahkan kebutuhan sosial menjadi solusi produksi yang efisien dan berkelanjutan.

Sebagai seorang insinyur muda, ia terbiasa melihat kota dari sudut pandang struktur dan fungsi. Namun dalam berbagai proyek penataan kawasan dan revitalisasi ruang publik yang ia pelajari, satu hal yang tak luput dari perhatiannya adalah aksesibilitas merupakan bagian tak terpisahkan dari kualitas infrastruktur modern.

Belajar dari Negara-Negara Berkembang

Perjalanan studi dan observasi industri ke berbagai negara memperluas perspektifnya. Di Singapura dan Jepang, ia melihat bagaimana guiding block menjadi bagian standar dari sistem pedestrian, dirancang dengan presisi tekstur dan kontras warna yang jelas. Di beberapa kota Eropa, ia menyaksikan bagaimana aksesibilitas tidak dianggap sebagai tambahan, melainkan sebagai kewajiban dalam desain ruang publik.

Pengalaman tersebut membentuk keyakinannya bahwa Indonesia pun mampu menghadirkan fasilitas serupa dengan standar material dan ketahanan yang tinggi. Guiding block bukan sekadar ubin bertekstur. Ia adalah bahasa tak terlihat yang memandu langkah. Tekstur garis memanjang memberi arah, pola titik menjadi tanda berhenti atau waspada. Kesalahan dimensi atau pemasangan bisa mengurangi fungsinya secara signifikan. Di sinilah pendekatan teknik menjadi krusial.

Material, Presisi, dan Tanggung Jawab

Melalui tactiledisabilitas.com, ia menghadirkan guiding block berbahan aluminium, PVC, dan ubin, masing-masing dengan karakteristik yang disesuaikan untuk kebutuhan lokasi berbeda. Aluminium menawarkan ketahanan tinggi terhadap beban dan cuaca ekstrem. PVC memberikan fleksibilitas serta kemudahan instalasi. Sementara ubin beton atau keramik menghadirkan integrasi yang kuat dengan sistem trotoar permanen.

Dengan latar belakang teknik dan pengalaman manufaktur, ia memastikan bahwa setiap produk memiliki ketebalan, pola tekstur, dan daya tahan yang sesuai standar. Ia memahami bahwa guiding block harus tahan terhadap injakan ribuan orang setiap hari, paparan panas dan hujan, serta tetap mempertahankan fungsi teksturnya dalam jangka panjang. Baginya, menyediakan guiding block bukan sekadar bisnis material bangunan. Ini adalah kontribusi terhadap terciptanya ruang publik yang lebih ramah bagi semua orang.

Komitmen terhadap Infrastruktur yang Inklusif

Ia percaya bahwa kota yang maju bukan hanya diukur dari gedung tinggi atau jalan lebar, tetapi dari sejauh mana ia memperhatikan warganya yang paling rentan. Melalui produk-produk tactile paving yang ia hadirkan, ia ingin menjadi bagian dari perubahan menuju infrastruktur yang lebih inklusif.

Sebagai insinyur dan pelaku industri, ia berdiri di belakang setiap produk yang dipasarkan. Standar kualitas, presisi desain, dan ketahanan material bukan hanya spesifikasi teknis, melainkan bentuk tanggung jawab.Karena pada akhirnya, setiap langkah yang dipandu dengan aman adalah bukti bahwa teknik dan kepedulian bisa berjalan berdampingan.

Kesadaran itulah yang kemudian membentuk visinya: infrastruktur tidak cukup hanya kokoh. Ia harus inklusif. Ia harus mampu memberi arah, bahkan bagi mereka yang tidak dapat melihatnya. Dan dari perpaduan antara warisan teknik keluarga dan perspektif modern tentang ruang publik itulah komitmennya terhadap produk tactile (guiding block) lahir. Baginya, kualitas bukan hanya tentang ketahanan material, tetapi tentang tanggung jawab terhadap setiap langkah yang melintasinya.

Kami adalah perusahaan penyedia produk tactile berkualitas yang mendukung aksesibilitas dan keselamatan fasilitas publik. Tactile kami dirancang sesuai standar, kuat, presisi, dan tahan lama untuk berbagai kebutuhan proyek.

Copyright ©Tactile Disabilitas
by Futake Indonesia